oleh

BERDAMAI DENGAN SAMPAH ! MIMPI INDAH KOTA DENGAN SEGUDANG PRESTASI

Bandung, Prabunews.com–   Ada Apa dengan alam bawah sadar sebagian masyarakat kota yang terkenal agamis ini ? Pertanyaan ini selalu muncul manakala selalu menyaksikan kondisi salah satu permasalah yang dihadapi kota-kota besar di negeri kita ini.Permasalahan itu bernama SAMPAH.Memang masalah yang berhubungan dengan makhluk ini hampir menjadi sebuah cerita sinetron yang sangat sulit selesai bahkan harus tayang berapa ratus episode.Salah satu kota yang memiliki masalah serius dengan sampah adalah kota Bandung. Kota dengan jumlah penduduk mendekati angka 2,5 juta jiwa, hadir dengan jumlah produksi sampah hampir mencapai 1500 ton sampah per hari, 150-200 ton diantaranya sampah plastik.

Berbagai upaya dalam rangka melakukan pola pengelolaan sampah yang bijak dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bandung melalui SKPD terkait dalam hal ini DLHK Kota Bandung dan PD.Kebersihan, juga tidak kalah penting lahirnya berbagai gerakan dari masyarakat dan komunitas yang membantu menghadirkan pengelolaan sampah yang baik, tentunya melalui sosialisasi dan edukasi sampai di tatanan masyarakat paling bawah.Upaya lainpun dilakukan oleh civitas akademisi yang tergabung di Gerakan sekolah Adiwiyata, melalui gerakan sekolah Adiwiyata ini secara sistematis gerakan kepedulian dibangun dan dikembangkan sesuai standart yang baku.Mulai dari pengelolaan sampah secara terpilah, gerakan bank sampah, gerakan mendaur ulang sampah sampai giat hemat energi.Secara nyata idealnya ruang-ruang pendidikan dapat menjadikan katalisator dalam menghadirkan budaya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan karena gerakan itu terlihat sangat masif dan konsisten.

Namun pertanyaan diatas hadir manakala masih banyak ditemukan kondisi lingkungan yang tidak pernah selesai dengan urusan pengelolaan sampah.Seperti hal yang sangat sulit rasanya bagi seseorang untuk berdamai dengan sampah.Jangankan sampai ke tataran mengurangi, memisahkan bahkan memanfaatkan, hanya untuk meletakan sampah di tempatnya saja ternyata masih menjadi hal yang sulit.
Gerakan Kangpisman ( Kurangi, Pisahkan dan Manfaatkan ) yang hampir beberapa bulan belakangan namanya membumi, bahkan hampir sebagian masyarakat kota ini mengenalnya dan melalui Gerakan Kangpisman ini pula Kota Bandung mendapatkan penghargaan, namun kenyataan di lapangan masih memberikan tanda tanya besar tentang seberapa menjiwanya gerakan itu pada diri sebagian masyarakat kota ini.Hal ini dapat terlihat dari petugas yang aktif bertugas dengan urusan kebersihan drainase dan sungai, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung, yang sering mendapatkan kenyataan bahwa masalah yang berhubungan dengan tugas pembersihan saluran itu diantaranya masalah sampah.Seperti yang terlihat dari hasil pekerjaan mereka hari kamis 19/09/2019 di saluran Leuwi panjang tepatnya sekitar Pasar leuwi Panjang, gambaran budaya nyampah sembarangan itu sangat jelas terlihat dan ini bukan hanya kali ini terjadi.Setiap pembersihan di area sekitar itu dilakukan pasti hadir permasalahan yang sama.Seperti cerita berulang yang tiada hentinya.Bapak Yus Bachrul Ullum, Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah ( MKKS ) Kota Bandung yang sekaligus sebagai Pembina Forum Silaturahmi Sekolah Adiwiyata ( FORSSA ) Jawa Barat mengatakan Bahwa “ Permasalahan perubahan budaya peduli lingkungan menjadi bagian yang tidak sederhana, tetapi membutuhkan proses dengan waktu yang lama.Perlu sikap keteladanan dari semua pihak, pembiasaan baik tentang hidup bijak termasuk dalam hal pengelolaan sampah harus secara konsisten dilakukan,”. Sekolah saja tidak cukup, keluarga merupakan garda paling depan dalam menghadirkan keteladanan itu, lanjut Yus Bachrul Ullum.


Apapun gerakan yang ditawarkan oleh pemerintah dalam rangka mencari solusi atas permasalahan sampah tetap saja akan menjadi impian yang mengejar kenyataan manakala tidak didukung oleh kesadaran yang tinggi dari warga kotanya.Namun ada sisi yang perlu digali lebih jauh tentang alasan masyarakat membuang sampah sembarangan bahkan sampai ke sungai.Apakah tidak ada fasilitas TPS di wilayahnya ? atau jadwal penarikan sampah yang lama ?.Tentunya ini menjadi PR bagi kita.

Yang Jelas usaha yang paling tepat dalam menyelesaikan prilaku tidak bijak dengan sampah ini diantaranya konsistensi membumikan gerakan secara ikhlas, evaluasi dari pemegang kebijakan dalam bentuk sidak, kolaborasi dengan berbagai elemen warga dan komunitas serta peran serta para Da’I dan ulama untuk secara rutin memasukan kajian pengajiannya yang berhubungan dengan tema Kepedulian lingkungan.

Sehingga suatu waktu manakala petugas membersihkan saluran yang sama, tidak ditemukan lagi masalah yang sama.Apabila sulit berubah maka permasalahan yang hadir bukan hanya masalah sampah tetapi mata rantai bencana lain yang turut hadir karena undangan prilaku kita, banjir, pemyakit dan ketidaknyamanan tentunya.Dan yang menanggung akibat dari semua ini bukan hanya pelaku tapi mungkin masyarakat lain yang tidak pernah melakukan kelalaian tersebut.
Ingat alam butuh bukti bukan basa-basi slogan ! ( Kang Amat )

Komentar

News Feed