oleh

Bangunan Cagar Budaya Golongan A Dibongkar Tanpa Izin

“Bandung,Prabunews.com- Satu lagi bangunan cagar budaya golongan A,dibongkar pemilikinya tanpa koordinasi dengan tim cagar budaya maupun pemerintah Kota Bandung, dengan dalih renovasi. Bangunan tersebut adalah gedung yang digunakan sekolah Santa Angela,yang berada dijalan Merdeka tepat didepan Balai Kota Bandung. Gedung Santa Angela yang termasuk Bangunan Cagar Budaya Golongan A dan dilindungi Undang-undang,seharusnya mendapat perhatian lebih,baik dari pemilik atau pengelola sekolah maupun pemerintah untuk dijaga keutuhannya. Demikian Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, David Bambang Soediono seusai melakukan sidak ke sekolaj St Angela,kamis sore (21/11/2019).

David Bambang Soediono menjelaskan,walaupun sudah ada kesepakatan untuk tidak merubah maupun mengganti bahan bangunan dengan bahan lain,pihak kontraktor dan pengelola,masih terus melakukan pembongkaran. David sangat menyayangkan atas kebebalan pihak kontraktor dan pengelola gedung sekolah Santa Angela. “ Keterlambatan dan lambannya instansi terkait Pemerintah Kota Bandung menangani masalah ini,serta terus dibiarkan dan diberi kelonggaran,akan semakin habis bangunan cagar budaya yang ada di Kota Bandung” ujar David.

Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

 

Benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak, yang punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Benda cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi, tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan sekarang.

Berikut Kronologis pembongkaran atap bangunan gedung St.Angela jalan Merdeka Bandung,yang diterima dari Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, David Bambang Soediono, terangkum 11 point :

1. Tanggal 20 September 2019, Pihak Sekolah St.Angel;a mendapat surat dari Dinas Penataan Ruang Kota Bandung yang bersifat “Berita Acara Pemeriksaan dan Pengawasan” lapangan, tetapi surat tersebut belum resmi, karena belum ditandatangani  Penyidik Koordinator Pengawasan Fisik Bangunan pada seksi Pengawasan Tata Ruang dan Bangunan Wilayah Cibeunying dan Kepala Seksi Pengawasan Tata Ruang dan Bangunan serta belum dicap stempel resmi dinas. Jadi bisa dikatakan bahwa surat tersebut adalah surat mentah.

2. Bangunan tersebut sudah dinyatakan sebagai Bangunan cagar budaya Golongan A, bukan saja berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 7 tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya tetapi malahan sudah ditetapkan oleh Peraturan Daerah No.19 tahun 2009 dan juga tercantum sebagai Bangunan Cagar Budaya didalam Peraturan Daerah No.18 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung.

3. Berbekal surat mentah pada butir 1 diatas, Pihak St.Angela mulai melakukan pembongkaran dan penggantian konstruksi serta bahan penutup atap. Pada tahap awal, pembongkaran dilakukan pada sayap utara bangunan yang memanjangdari arah barat (Jalan Merdeka) ke timur.

4. Terjadi penggantian bahan, baik bahan konstruksi atap yang semula terbuat dari kayu balok menjadi konstruksi atap terbuat dari bahan baja ringan dan penggantian bahan penutup atap dari bahan genteng tanah liat bakar berukuran kecil berupa genteng kodok menjadi genteng keramik hasil industri masa kini yang berukuran besar.

5. Perombakan dan penggantian bahan konstruksi dan bahan penutup atap tahap satu sudah selesai beberapa minggu lalu.

6. Sejak akhir minggu (tercatat hari jum’at tanggal 15 November 2019) pembukaan atap tahap kedua dimulai dan pada tahap ini adalah Bangunan Utama yang memanjang dari utara ke selatan dan menghadap seluruhnya ke Jalan Merdeka yang mendapat giliran.

7. Hari Senin pagi tanggal 18 November 2019, pekerjaan ini sempat dihentikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung dan kepada fihak sekolah dan pemborong pelaksana diminta untuk memberikan klarifikasi dihari selasa selasa siang tanggal 19 November 2019. Klarifikasi diberikan dihadapan Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung yang memang bersidang setiap hari selasa siang.

8. Pada acara klarifikasi tersebut terungkap bahwa seluruh pekerjaan ini dilakukan secara sembrono dan tidak mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku untuk penanganan bangunan cagar budaya, terlebih lagi untuk Bangunan Cagar Budaya Golongan A yang merupakan peringkat paling tinggi dan harus dikerjakan dengan tingkat ke hati-hatian yang amat tinggi. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung menilai ceroboh karena proses pembongkaran dan penggantian konstruksi dan bahan penutup atap tidak didahului oleh kajian serta penelitian seksama. TACB juga menilai bahwa terjadi pelanggaran terhadap ketentuan hukum dimana di dalam Peraturan Daerah No.14 Tahun 2018 tentang Bangunan Gedung Gedung Bab I Pasal 1 ayat 22 dinyatakan bahwa selain membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi bahkan merawat bangunan gedung (walaupun bukan bangunan cagar budaya sekalipun) dibutuhkan Surat Izin Mendirikan Bangunan, TACB meminta agar keadaaan dipulihkan kembali agar keadaan aslinya dalam waktu sesingkat-singkatnya, artinya Konstruksi berupa Kuda-Kuda kayu, gording kayu, jurai kayu, kasau-kasau kayu sama dan tidak perlu seluruhnya diganti, tetapi cukup dibatasi pada bagian-bagian yang lapuk saja. Demikian juga genteng penutup atap yang lama harus dipasang kembali kecuali yang sudah rusak digantikan oleh genteng jenis dan ukuran yang sama. Kebocoran yang terjadi tidak serta merta boleh dijadikan alasan untuk mengganti seluruh atap yang ada. Konstruksi kayu harus dikembalikan lagi dan tidak bisa digantikan oleh konstruksi baja ringan karea terdapat perbedaan prinsipil mengenai distribusi gaya berat diantara kedua jenis konstruksi tersebut.

9. Menurut Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, didalam pasal 66 dan pasal 105 secara tegas dinyatakan bahwa perusakan (bangunan) Cagar Budaya walaupun hanya bagian-bagiannya saja diacam dengan hukum pidana denda antara Rp. 500.000.000,- hingga Rp.5.000.000.000,- dan/atau pidana penjara antara 1 tahun hingga 15 tahun.

10. Acara klarifikasi hanya dihadiri pihak kontraktor saja tanpa didampingi pihak sekolah. Sebuah hal yang disesali karena pembahasan menjadi tidak tuntas.

11. Pihak pemborong berjanji akan mematuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan artinya akan mengambalikan lagi konstruksi kayu dan genteng atap lama seutuhnya dan tidak diganti oleh bahan-bahan lain seperti misalanya konstruksi baja ringan dan genteng keramik hasil industri. (Mz).

Komentar

News Feed