oleh

Parbud Jabar Gelar Forum Grup Discussion (FGD) Soal Rendahnya Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK)

Bandung, Prabunews.com – Banyak Faktor yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Jawa Barat di bawah standar nasional. Saat ini IPK Jawa Barat menduduki peringkat 18 atau sekitar 51,2 % dari 33 provinsi di Indonesia.

Salah seorang seniman/budayawan Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Guna menyebutkan, salah satu faktor IPK Jawa Barat masih rendah adalah identitas Jawa Barat tidak terasa saat masuk ke wilayah Jawa Barat. Berbeda dengan Yogyakarta, saat masuk wilayahnya aura Yogyakartanya sangat terasa, seperti saat masuk ke hotel hotel maupun restoran.

“Berbeda saat kita masuk ke hotel hotel maupun restoran di Jabar yang lebih menonjolkan aura internasional, sangat jarang yang menonjolkan aura kedaerahan (lokal),” kata Buky yang akrab disapa Buky Wikagoe pada wartawan disela-sela FGD IPK Jabar di Hotel Papandayan Bandung, Kamis (5/12/2019).

Buky berharap pemerintah daerah agar menginstruksikan setiap hotel maupun restoran menonjolkan kedaerahan, seperti musik gamelan atau kecapi suling, memamerkan gamelan Jabar minimal miniatutnya panggung khusus.

“Untuk itu perlu koordinasi dan komunikasi yang lebih inten antara pemerintah dan dunia usaha. Kalau perku ada kebijakan yang tegas dari pemerintah,” tambahnya.

Buky juga menyoroti masalah karakter kebudayaan yang kurang dibangun di masyarakat terutama dikalangan calon generasi penerus melalui kesenian, seperti penca silat. Menurut Buky, penca silat mengandung filosofi yang sangat kuat untuk membangun karakter seseorang (manusia Indonesia), apalagi penca silat akan diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia.

“Kenapa penca silat tidak dijadikan muatan lokal wajib di sekolah-sekolah, terutama sekolah tingkat dasar ? . Kalau hal ini diterapkan akan terekam dan tersimpan hingga dewasa,” tandasnya.

Buky pun menyoroti masih kurangnya ruang-ruang pertunjukan seni yang representatif di Jawa Barat. Akibatnya berdampak pada rendahnya apresiasi masyarakat Jawa Barat pada kesenian.

“Saat ini, apresiasi masyarakat Jabar paling rendah di Indonesia. Padahal Jabar memiliki potensi yang sangat tinggi dibidang kesenian dan kebudayaan,” tandasnya.

Hal senada dikatakan seniman Iman Soleh, yang juga sebagai pengelola komunitas Celah Celah Langit (CCL) ini mengatakan, ruang ruang pertunjukan seni lebih banyak di kampus-kampus dan tidak menyebar ke masyarakat.

Ia mencotohkan pertunjukan seni di Kampus ISBI dalam setahun bisa mencapai 180 lebih bahkan bisa mencapai 200 kali pertunjukan.

“Harusnya pemerintah berinisiatif menarik pertunjukan-pertunjukan seni di kampus ini ke luar, misalnya ke Taman Budaya, terutama seni yang unggulan. Buat apa ada taman budaya kalau tidak ada pergerakan kebudayaan di sana,” tandasnya.

Menurut Iman, banyak ruang pertunjukan seni di Jabar namun tidak representatif. Kalau pun Pemprov Jabar ingin membangun gedung pertunjukan yang megah dan representatif, tapi sampai saat ini itu masih wacana.

“Dari pada membangun yang baru, lebih baik perbaiki dan optimalkan yang sudah ada,” tambahnya. Sementara itu, Rektor ISBI, Een Herdiani memgusulkan dilakukan riset terlebih dahulu soal rendahnya IPK Jabar. Kalau perlu dilakukan study banding ke daerah lain.

“Memang soal budaya agak susah dalam penilaiannya. Tetapi pusat sudah mengeluarkan tujuh indikator penilaian kebudayaan, ini yang bisa digali akar permasalahannya,” tandas Een.

Sehari sebelumnya, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Febiyani membuka Forum Grup Discussion (FGD) soal rendahnya Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Jabar di Hotel Papandayan Bandung. Kegiatan yang berlangsung dua hari itu berakhir hari ini (5/12/2019).

(Mz)

Komentar

News Feed