oleh

UNESCO Telah menetapkan 10 WBTb Asal Indonesia

Kolombia, Prabunews.com – Ditetapkannya Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh UNESCO, pada sidang ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Bogota, Colombia, maka jumlah WBTb asal Indonesia sudah mencapai 10 WBTB. Jumlah tersebut,terdiri atas  Wayang Indonesia (2003), Keris Indonesia (2005), Batik Indonesia (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken (2012), Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015), Perahu Pinisi (2017), Pelatihan Batik dan terakhir Pencak Silat yang ditetapkan Kamis (12/12/2019),pukul 09.59 (21.59. WIB) oleh Pimpinan Sidang Komite Madam Maria Claudia Lopez Sorzano (Wakil Menteri Kebudayaan dan Rekreasi Colombia).

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Dr. Nadjamuddin Ramly dari Bogota, Kolombia dalam siaran persnya, Jumat (13/12/2019), menyebutkan, dalam sidang tersebut, 24 negara Anggota Komite membahas 6 nominasi In need of Urgent Safeguarding, 42 nominasi Representative List dan 3 proposal register of Good Safeguarding Practices.

Sekretariat UNESCO menggarisbawahi tentang pentingnya basis data kebudayaan serta proses inventori kekayaan budaya, termasuk Pencak Silat. Hal ini dapat dilaksanakan dengan kerjasama yang baik semua pihak, yaitu pemerintah, komunitas maupun akademisi yang berkaitan dengan Pengusulan “The Tradition of Pencak Silat”.

Dijelaskan Nadjamudin Ramly, proses pengusulan Pencak Silat ke UNESCO dilakukan oleh Pemerintah melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Sebelum warisan budaya diusulkan ke dalam daftar ICH UNESCO, harus melalui tahapan Pencatatan dan Penetapan terlebih dahulu. Pencatatannya diakses pada laman https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/ dan dapat dilakukan oleh semua orang dengan mengisi formulir serta mengunggah foto dan video warisan budaya,yang akan dicatatkan. Warisan budaya yang telah masuk ke dalam data Pencatatan digunakan sebagai data usulan Penetapan,serta prosesnya diawali dengan usulan dari Dinas Kebudayaan Provinsi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Usulan kemudian dibahas oleh tim ahli WBTB dan disidangkan, untuk kemudian ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Sampai tahun 2019,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan 1.086 WBTb Indonesia. Pencak Silat telah ditetapkan menjadi WBTb Indonesia dari berbagai provinsi diantaranya Pencak dari Jawa Barat, Silek Minang dari Sumatra Barat, Silek Tigo Bulan dari Riau, Pencak Silat Bandrong dari Banten, Silat Beksi dan Silat Cingkrik dari DKI Jakarta,” terang Ramly.

          Dijelaskan Ramly, naskah Pencak Silat dengan judul “The Tradition of Pencak Silat” diterima  Sekretariat ICH UNESCO pada bulan Maret tahun 2017,dengan nomor referensi IDN-01391. Naskah yang diterima lengkap dengan formulir Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC) oleh Komunitas Pencak Silat, daftar penetapan WBTb, dokumentasi foto dan video serta kajian akademis sebagai data dukung. Usulan Pencak Sila dibahas pada sidang ke-14 Intergovernmental Committee UNESCO yang  berlangsung sejak tanggal 9 Desember dan akan berakhir 14 Desember 2019 di Bogota, Kolombia.

          Daftar ICH UNESCO memiliki 3 (tiga) kategori usulan WBTb yaitu in need of urgent safeguarding list (daftar yang membutuhkan pelindungan mendesak); representative list (daftar perwakilan) dan; register of good safeguarding practices (langkah pelindungan terbaik).  Pencak Silat, kata Ramly, diusulkan untuk masuk ke dalam kategori representative list (daftar perwakilan) karena masih hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia.  Pencak Silat dikenal sebagai salah satu jenis seni bela diri dan juga sebagai seni tradisi khas Indonesia, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 4 (empat) aspek penting yang terkandung dalam Pencak Silat, yaitu mental-spiritual, pertahanan diri, seni dan olahraga. Nilai, makna dan filosofi yang terkandung didalamnya itu, menjadikan Pencak Silat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia,yang patut dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

“Sehubungan dengan itu, diperlukan kerjasama diantara pemangku kepentingan Pencak Silat seperti aliran, perguruan, komunitas, akademisi, pemerintah maupun para pemerhati Pencak Silat. Pengusulan Pencak Silat ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dan telah berkolaborasi bersama komunitas budaya untuk membawa Pencak Silat lebih dikenal secara luas di dunia internasional. Penetapan masuknya Pencak Silat ke dalam daftar Inatngible Cultural (ICH) UNESCO bukan tujuan akhir, tetapi menjadi langkah awal bagi kita untuk memberikan perhatian lebih bagi pelestarian dan pengembangan Pencak Silat,” tegas Ramly.

Menurut Ramly, ada 5 (lima) rencana aksi pengelolaan Pencak Silat yang akan dilakukan apabila Pencak Silat masuk dalam daftar ICH UNESCO,yaitu memasukkan Pencak Silat ke dalam muatan local,pendukungan festival baik di tingkat lokal maupun internasional,mengadakan pelatihan untuk peningkatan sumber daya manusia, penerbitan buku terkait Pencak Silat, serta melanjutkan upaya inventarisasi dan dokumentasi.

Sebelum Pencak Silat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb), Indonesia terlebih dahulu mempresentasikan tentang pencak silat, di sidang yang berlangsung sejak  tanggal 9 Desember dan berakhir 14 Desember 2019.

Pencak silat, sebagai salah satu seni bela diri tradisi khas Indonesia, telah ada dari generasi ke generasi. Tradisi pencak silat berawal dari Sumatera Barat dan Jawa Barat, kemudian berkembang ke seluruh wilayah Indonesia dengan masing-masing keunikan gerakan dan musik yang mengiringinya. Tradisi pencak silat memiliki seluruh elemen yang membentuk warisan budaya tak benda.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Prof. Surya Rosa Putra dalam keterangan preesnya yang diterima Antara London, Kamis (12/12/2019) mengatakan, tradisi pencak silat bukan hanya sekedar bela diri, tetapi juga menjadi bagian dari jalan hidup para pelakunya.
“Pencak Silat mengajarkan  untuk dapat menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Meski pun pencak silat mengajarkan teknik menyerang, tetapi mengajarkan kita juga untuk dapat menahan diri,serta menjaga keharmonisan,” ujarnya.
Tradisi pencak silat terdiri dari tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual dan festival, kerajinan tradisional, pengetahuan dan praktik sosial serta kearifan lokal.

(Mz)

Komentar

News Feed